Foto pahlawan nasional ki hajar dewantara biography
Home / Historical Figures / Foto pahlawan nasional ki hajar dewantara biography
Kalau aku seorang Belanda, hal yang terutama menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku ialah kenyataan bahwa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu kegiatan yang tidak ada kepentingan sedikit pun baginya – Ki Hadjar Dewantara.
Tulisan tersebut kemudian menyulut kemarahan pemerintah Kolonial Hindia Belanda kala itu.
Kendati demikian, tidak ada salahnya bagi kita untuk menyelami sosoknya lebih dalam lagi. Dilihat dari dokumen yang disediakan repository IAIN Kudus, pada 1905, dr Wahidin Sudiro Husodo datang dan menawarkannya kesempatan beasiswa di STOVIA, sekolah dokter terkenal.
Ki Hadjar Dewantara menerima tawaran tersebut dan melanjutkan pendidikannya di Jakarta.
Kala pengasingan tersebut Soewardi baru berusia 24 tahun.
Selama dalam pengasingan Soewardi di Belanda, Beliau aktif dalam organisasi Indische Vereeniging atau Perhimpunan Hindia yang beranggotakan para pelajar asal Indonesia. Sudiro Alimurtolo
Bapak Pendidikan Nasional Indonesia
Biografi KI Hajar Dewantara
Beliau merupakan tokoh pendidikan indonesia dan juga seorang pahlawan Indonesia.
Dari pernikahannya, ia dikaruniai enam orang anak. Ide untuk menyelenggaraan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita keruk pula kantongnya. Ki Hadjar Dewantara wafat pada 26 April 1959 pada usia 69 tahun.
Biografi Singkat Ki Hadjar Dewantara
Nama : Raden Mas Soewardi Soerjaningrat
Lahir : 2 Mei 1889, Kota Yogyakarta, Indonesia
Wafat : 28 April 1959, Kota Yogyakarta, Indonesia
Jabatan : Menteri Pengajaran Indonesia ke-1 (2 September 1945 – 14 November 1945)
Profil Ki Hajar Dewantara
Pendidikan Dan Menjadi Seorang Wartawan
Soewardi Soerjaningrat merupakan putra dari GPH Soerjanirat dan merupakan cucu dari Pakualam III.
Beliau menyelesaikan pendidikan dasar di ELS atau Sekolah Dasar Eropa/Belanda, Selanjutnya beliau sempat meneruskan pendidikan ke STOVIA atau Sekolah Dokter Bumiputera namun tidak tamat karena sakit.
Kemudian beliau bekerja sebagai wartawan dan penulis dibeberapa surat kabar seperti De Express, Poesara, Midden Java, Oetoesan Hindia, Sediotomo, Kaoem Moeda dan Tjahaja Timoer.
Sebenarnya, idealisme ini dipengaruhi oleh Ernest Douwes Dekker. Ketiga tokoh ini lalu dikenal dengan julukan “Tiga Serangkai”.
Mulanya, ia bergabung sebagai pembantu harian di Sedyo Tomo dan surat kabar Midden Java.
Usai membaca tulisan-tulisannya, Douwes Dekker yang kagum, meminta Ki Hadjar untuk masuk ke De Express. Kesemuanya adalah:
- Subroto Aryo Mataram
- Asti Wandasari
- Ratih
- Sudiro
- Bambang Sukowati
- Syailendra
Semasa hidupnya, Ki Hadjar Dewantara memperjuangkan pendidikan bagi bangsanya.
Dikutip dari situs Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Sumbar, Ki Hadjar Dewantara ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia pada 28 November 1959 melalui SK Presiden Nomor 305.
Tak hanya itu, tanggal lahirnya, 2 Mei, juga selalu diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Beliau kemudian merintis cita-cita untuk memajukan kaun pribumi dengan belajar ilmu pendidikan hingga mendapatkan Europeesche Akta (Ijazah pendidikan).
Kembali Ke Indonesia Dan Mendirikan Taman Siswa
Pada September 1919, beliau kembali ke indonesia dan bergabung dengan sekolah binaan saudaranya.
Beberapa sumber menyebutkan dengan bahasa Jawanya yaitu Ki Hajar Dewantoro. Munculnya ide untuk menyelenggarakan perayaan kemerdekaan itu saja sudah merupakan suatu penghinaan, dan sekarang kita keruk pula dompet para pribumi. Nama aslinya adalah Raden Mas Soewardi Soerjaningrat.
Dari namanya sudah terlihat, bahwa ia merupakan keturunan ningrat.
Semboyan ciptaan beliau pula menjadi slogan Kementerian Pendidikan Nasional yaitu tut wuri handayani. Istilah Indonesia ini dulu diciptakan tahun 1850 oleh seorang ahli bahasa dari Inggris yang bernama George Windsor Earl dan seorang pakar hukum dari Skotlandia yang bernama James Richardson Logan.
Di sinilah Ki Hajar Dewantara kemudian memulai impiannya meningkatkan kualitas kaum pribumi dengan mempelajari ilmu pendidikan.
Sajak tersebut mengisahkan Alibasyah Sentot Prawirodirjo sebagai seorang panglima perang. Beliau adalah anak dari GPH Soerjaningrat atau cucu dari Pakualam III. Ia berhasil menamatkan pendidikan dasar di ELS atau semacam sekolah dasar di zaman Belanda. Ide untuk menyelenggaraan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita keruk pula kantongnya.