Biodata penuh uthman bin af fan biography

Home / Religious & Spiritual Figures / Biodata penuh uthman bin af fan biography

Growing up in wealth, he was well-educated and deeply respected by the people of Mecca.

As a successful trader, Uthman earned a reputation for honesty and integrity, which made him a wealthy individual. Beliau dimakamkan di kuburan Baqi di Madinah.

Baca Juga Biografi Sahabat Rasulullah SAW lainnya :

.

Ia adalah sosok yang penuh dengan kebaikan dan kehormatan, baik sebelum maupun sesudah memeluk Islam.

Dalam buku Kisah Hidup Utsman ibn Affan yang disusun oleh Mushthafa Murad terjemahan Khalifurrahman Fath, Utsman pernah menuturkannya sendiri, "Sepuluh kebaikan tersimpan di sisi Tuhanku: aku adalah khalifah ketiga dalam Islam, aku menyiapkan jays al-'usrah (pasukan dalam keadaan sulit), aku menghimpun Al-Quran di masa Rasulullah, aku dipercaya Rasulullah untuk menikah dengan salah seorang putrinya, Ruqayyah.

Ia adalah orang pertama yang memperluas bangunan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

Ia juga membangun pangkalan angkatan laut, membentuk kepolisian negara, serta mendirikan gedung peradilan. Julukan ini didapat karena Utsman telah menikahi puteri kedua dan ketiga dari Rasullah Saw yaitu Ruqayah dan Ummu Kaltsum.

Dalam Biografi Utsman bin Affan diketahui bahwa setelah wafatnya Umar bin Khatab sebagai khalifah kedua, diadakanlah musyawarah untuk memilik khalifah selanjutnya.

Ada enam orang kandidat khalifah yang diusulkan yaitu Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Abdurahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqas, Zubair bin Awwam dan Thalhah bin Ubaidillah.

Selanjutnya Abdurrahman bin Auff, Sa’ad bin Abi Waqas, Zubair bin Awwam, dan Thalhah bin Ubaidillah mengundurkan diri hingga hanya Utsman dan Ali yang tertinggal.

For this contribution, he is fondly remembered as “the Compiler of the Quran.”

2. Semua mushaf lainnya dibakar.

Pada masa pemerintahannya, Utsman membuat perubahan besar. Berikut riwayat hidup lengkap Utsman bin Affan dan keistimewaan yang dimilikinya.

Riwayat Hidup Utsman bin Affan

Merangkum buku Tokoh-tokoh Besar Islam Sepanjang Sejarah yang ditulis oleh Syaikh Muhammad Sa'id Mursi terjemahan Khoirul Amru Harahap, nama lengkapnya adalah Utsman bin Affan bin Abi Ash bin Umayyah bin Abd Syams bin Abd Manaf, biasa dipanggil Abu Abdillah, ia lahir di Makkah lima tahun setelah kelahiran Rasulullah SAW atau lima tahun setelah peristiwa pasukan gajah yang menyerang Ka'bah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Utsman dikenal sebagai sosok yang tampan, dengan kulit halus dan putih, jenggot lebat, bagian depan kepala botak, dan tangan yang kekar.

biodata penuh uthman bin af fan biography

Suatu hari, ketika Rasulullah SAW tidur terlentang dengan kedua betis terbuka, Abu Bakar dan Umar meminta izin masuk, dan Rasulullah tetap dalam posisi tersebut.

Namun, ketika Utsman meminta izin, Rasulullah SAW langsung menutup betisnya sambil berkata, "Bagaimana aku tidak merasa malu kepada orang yang malaikat saja malu kepadanya?" (HR.

Ia menyusun mushaf Al-Quran sesuai dengan bacaan yang didasarkan Jibril kepada Rasulullah SAW di akhir hayatnya. On 18 Dhu al-Hijjah, 35 AH (656 CE), a group of rebels broke into his home and assassinated him while he was reading the Quran. Despite being offered protection by his supporters, Uthman (RA) chose not to engage in violence to save his own life, in order to prevent bloodshed among Muslims.


Martyrdom of Uthman (RA)

During the siege, Uthman (RA) demonstrated remarkable patience, spending his time in prayer and recitation of the Quran.

Kemudian, Utsman pun bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

Keistimewaan Utsman bin Affan

Allah SWT memberikan banyak sifat baik, keutamaan yang melimpah, dan ragam perilaku terpuji kepada Utsman bin Affan, sang pemilik "dua cahaya". His father, Affan ibn al-As, was a wealthy and respected merchant, and his mother, Arwa bint Kurayz, was also from a noble lineage.

His caliphate saw an expansion of the Islamic empire, and his contributions to Islam left a lasting legacy.


Early Life and Background

Uthman ibn Affan (RA) was born around 576 CE in Mecca, into the noble Umayyad clan of the Quraysh tribe. Aku tidak menumpuk harta, aku tidak berdusta, tak pernah kusentuh kemaluanku dengan tangan kanan sejak aku berbaiat kepada Rasulullah.

Rasulullah SAW menyifati Utsman bin Affan sebagai al-shadiq (Kawan) dan al-syahîd (Syahid).

Ketika Rasulullah SAW berada di atas sebuah gunung batu bersama Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, dan Zubair, tiba-tiba gunung batu itu berguncang. Abu Bakar menjawab, "Demi Allah, wahai Utsman, bibimu benar. His death marked a turning point in Islamic history and foreshadowed the subsequent civil strife within the Muslim community.


Legacy of Hazrat Uthman ibn Affan (RA)

Hazrat Uthman’s legacy is remembered for his:

  1. Generosity: Uthman’s immense charity earned him the title Al-Ghani, and his wealth was always at the disposal of the Muslim community.

    Pada perang Al-Asrah, ia menanggung semua perlengkapan separuh pasukan Muslim. His generosity laid the foundation for welfare and public projects that benefited generations.

  2. Standardization of the Quran: The compilation and standardization of the Quran remain one of his most enduring contributions. Pada peristiwa Hudaibiyah, Utsman dikirim oleh Rasullah untuk menemui Abu Sofyan di Mekkah.

    Utsman diperintahkan Nabi untuk menegaskan bahwa rombongan dari Madinah hanya akan beribadah di Ka’bah, lalu segera kembali ke Madinah, bukan untuk memerangi penduduk Mekkah.

    Menjabat Walikota Madinah

    Pada saat Perang Dzatirriqa dan Perang Ghatfahan berkecamuk, dimana Rasullullah Saw memimpin perang, Utsman dipercaya menjabat walikota Madinah.

    Saat Perang Tabuk, Utsman mendermakan 1000 1000 ekor unta dan 70 ekor kuda, ditambah 1000 dirham sumbangan pribadi untuk perang Tabuk, nilainya sama dengan sepertiga biaya perang tersebut.

    Sang Dermawan

    Utsman bin Affan juga menunjukkan kedermawanannya tatkala membeli sumur yang jernih airnya dari seorang Yahudi seharga 200.000 dirham yang kira-kira sama dengan dua setengah kg emas pada waktu itu.

    At-Tirmidzi).

    Utsman sangat takut terhadap azab Allah SWT. Ia pernah berkata, "Seandainya aku berada di antara surga dan neraka, lalu aku tidak tahu ke mana aku akan disuruh masuk, maka aku akan memilih menjadi abu sebelum aku tahu ke mana aku akan dimasukkan."

    Rasulullah SAW pernah memberitakan bahwa Utsman akan masuk surga dan akan menghadapi fitnah serta terbunuh secara zalim.

    He organized the first Islamic naval fleet to protect the Mediterranean coast and fight the Byzantine navy, a strategic move that helped secure Muslim territories.


    Challenges and Opposition in Later Years

    The second half of Uthman’s caliphate was marked by internal challenges and growing opposition.

    Unfortunately, Ruqayyah passed away after a prolonged illness during the Battle of Badr.