Pesan jenderal sudirman biography
Home / Political Leaders & Public Figures / Pesan jenderal sudirman biography
His tenacity against the Dutch was greatly admired by his troops and gave them great motivation to continue fighting the Dutch. Karena kedisplinan dan jiwa pendidik dalam dirinya dan dipadukan dengan bekal pribadinya hingga ia bisa menjadi pemimpin tertinggi Angkatan Perang.
Perlawanan Jendral Sudirman terhadap Jepang
Pendidikan militernya diawali dengan mengikuti pendidikan tentara Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor.
Beliau juga menjadi pemimpin organisasi tersebut pada cabang Cilacap setelah lulus dari Wirotomo.
Kemampuannya dalam memimpin dan berorganisasi serta ketaatan dalam Islam menjadikan ia dihormati oleh masyarakat. Selama tujuh bulan, ia memimpin perang gerilya dari desa ke desa, membangkitkan semangat rakyat dan pasukan TNI.
Strategi Perang Rakyat
Sudirman menekankan bahwa kekuatan TNI ada pada dukungan rakyat.
He had wanted to resign from the Indonesian military but Soekarno refused because it could cause instability in the country’s struggle at that time.
After General Soedirman left the hospital on December 19 1948, the Dutch launched their second military aggression. Belanda menyerbu Yogyakarta, ibu kota RI kala itu, dan berhasil menawan Soekarno-Hatta.
Sudirman bersama tentaranya kemudian mendirikan cabang BKR di Banyumas. Beliau dimakamkan disamping makam jenderal urip Sumoharjo.
Biografi Jenderal Sudirman, Kisah Sang Jenderal Besar Pahlawan Indonesia
Biografiku.com – Profil dan Biografi Jenderal Sudirman. Ia meninggal pada tanggal 29 Januari 1950.
Since then, General Soedirman began to be active in the military world and joined PETA, after which he went to study military in Bogor. Together with his uncle, the General received a proper education from a young age.
When he was 7 years old, he went to school at Hollandsch Inlandsche School (HIS) which then continued to Taman Siswa when he was 8 years old.
Baginya, panggilan tugas negara lebih penting daripada kesehatan pribadi.
Ditandu di Hutan
Dalam kondisi lemah, ia tetap memimpin pasukan. Sekali tentara tidak percaya lagi kepada negara dan pemerintah, maka tentara itu bukan tentara lagi.”
Akhir Hidup dan Penghormatan
Setelah Belanda mengakui kedaulatan Indonesia pada Desember 1949, Sudirman kembali ke Yogyakarta.
Dari sinilah jalan hidupnya sebagai pejuang bangsa terbuka.
Karier Militer dan Kiprah Awal
Bergabung dengan PETA
Sudirman menunjukkan bakat kepemimpinan yang menonjol. Melihat keadaan yang sedang darurat Sudirman tetap melakukan paerlawan terhadap Belanda karena ia ingat dengan tanggung jawabnya sebagai pimpinan Tentara.
Ia menerapkan strategi “perang rakyat semesta”, di mana seluruh rakyat ikut membantu logistik, informasi, dan perlindungan bagi pasukan gerilya.
Filosofi dan Kepemimpinan Jenderal Sudirman
Nilai-Nilai Keteladanan
- Disiplin dan Tegas – Ia menuntut pasukannya selalu siap siaga.
- Religius – Tidak pernah meninggalkan salat meski sedang bergerilya.
- Rendah Hati – Meski panglima besar, ia tetap hidup sederhana.
- Pantang Menyerah – Sakit parah tidak menghalanginya untuk terus memimpin perjuangan.
Pesan Perjuangan
Salah satu pesan Sudirman yang abadi adalah:
“Tentara hanya mempunyai kewajiban satu, ialah mempertahankan kedaulatan negara dan menjaga keselamatannya.
Bung Karno dan Bung Hatta serta beberapa anggota kabinet lainnya juga sudah ditawan. Dan tak lama kemudian Sudirman diminta untuk bergabung dalam tentara PETA (Pembela Tanah Air) oleh Jepang.
Masuk di Militer
Ketika pendudukan Jepang, ia masuk tentara Pembela Tanah Air (Peta) di Bogor yang begitu tamat pendidikan, langsung menjadi Komandan Batalyon di Kroya.