Gambar pahlawan nasional cut nyak dien biography

Home / Historical Figures / Gambar pahlawan nasional cut nyak dien biography

Saat itu, Belanda mengirim 3.198 prajurit.

Lalu, pada tanggal 8 April 1873, Belanda mendarat di Pantai Ceureumen di bawah pimpinan Köhler, dan langsung bisa menguasai Masjid Raya Baiturrahman dan membakarnya. Namun, karena Teuku Umar mempersilakannya untuk ikut bertempur dalam medan perang, Ia akhirnya menerimanya dan menikah lagi dengan Teuku Umar pada tahun 1880.

Hal ini membuat meningkatnya moral semangat perjuangan Aceh melawan belanda.

Hingga pada usia 12 tahun, Cut Nyak Dhien dinikahkan oleh orangtuanya dengan Teuku Cek Ibrahim Lamnga tahun 1862, yang merupakan putra dari Uleebalang Lamnga XII.

Pada tanggal 26 maret 1873, Belanda menyatakan perang terhadap Aceh dengan memulai melepaskan tembakan meriam ke daratan Aceh dari kapal perang Cidatel Van Antwerpen.

Pada perang pertama (1873-1874), Aceh melakukan perlawanan terhadap Belanda yang saat itu di pimpin oleh Panglima Polim dan Sultan Macmud Syah.

Pada tanggal 8 April 1873 Belanda mendarat di pantai Ceureuneb dibawah pimpinan Kohler, dan langsung bisa menguasai Masjid Raya Baiturahman dan membakarnya.

gambar pahlawan nasional cut nyak dien biography

Ia dilahirkan dari keluarga bangsawan yang taat beragama di Aceh Besar, wilayah VI Mukim pada tahun 1848.

Ayahnya bernama Teuku Nanta Setia, seorang uleebalang VI Mukim, yang juga merupakan keturunan Machmoed Sati, perantau dari Sumatera Barat.

Machmoed Sati mungkin datang ke Aceh pada abad ke 18 ketika kesultanan Aceh diperintah oleh Sultan Jamalul Badrul Munir.

Namun kesultanan Aceh dapat memenangkan perang pertama, Ibrahim Lamnga yang bertarung dibarisan depan kembali dengan sorak kemenangan sementara Kohler tewas tertembak pada April 1873.

Pada tahun 1874-1880, dibawah pimpinan Jenderal Jan Van Swieten, daerah VI Mukim dapat diduduki Belanda pada tahun 1873, sedangkan Keraton Sultan jatuh pada tahun 1874.

Hingga akhirnya Belanda menemukan rencana Teuku Umar untuk menyerang Meulaboh pada tanggal 11 Februari 1899. Akhirnya, Teuku Umar gugur tertembak peluru.

Melanjutkan Perlawanan Melawan Belanda

Perjuangan Cut Nyak Dien kemudian dengan memimpin perlawanan melawan Belanda di daerah pedalaman Meulaboh bersama pasukan kecilnya dan mencoba melupakan suaminya.

Ibrahim Lamnga yang bertarung di garis depan kembali dengan sorak kemenangan, sementara Köhler tewas tertembak pada April 1873.

Pada tahun 1874-1880, di bawah pimpinan Jenderal Jan van Swieten, daerah VI Mukim dapat diduduki Belanda pada tahun 1873, sedangkan Keraton Sultan jatuh pada tahun 1874.

Cut Nyak Dien dan bayinya akhirnya mengungsi bersama ibu-ibu dan rombongan lainnya pada tanggal 24 Desember 1875.

Keberanian dan kegigihannya dalam melawan penjajah membuatnya dihormati oleh banyak orang, dan dia dianggap sebagai salah satu simbol perlawanan Aceh terhadap penjajah.

Prestasi Cut Nyak Dien

Prestasi Cut Nyak Dien tidak hanya tercermin dari peranannya sebagai seorang pejuang dalam perang melawan penjajah Belanda, tetapi juga dari keteguhan dan keberanian dalam memimpin dan memperjuangkan hak-hak rakyat Aceh.

Pada awalnya Cut Nyak Dien menolak. Sedangkan suaminya Ibrahim Lamnga melanjutkan pertempuran untuk merebut kembali daerah VI Mukim.

Ketika Ibrahim Lamnga bertempur di Gle Tarum, ia tewas pada tanggal 29 juni 1878. Penggantinya, Jend. Umar mencoba untuk mempelajari taktik Belanda, sementara pelan-pelan ia mengganti sebanyak mungkin orang Belanda di Unit yang ia kuasai.

Hal ini membuat Cut Nyak Dhien sangat marah dan bersumpah akan menghancurkan Belanda.

Perlawanan Cut Nyak Dhien Terhadap Belanda

Setelah kematian suaminya, pada tahun 1880 ia kembali dilamar oleh Teuku umar. Meskipun terpisah dari tanah airnya, semangat dan warisan perjuangannya tetap hidup dan menginspirasi generasi-generasi berikutnya.

Cut Nyak Dien wafat pada tanggal 6 November 1908 di Sumedang, Jawa Barat.

Oleh sebab itu, Ayah dari Cut Nyak Dien merupakan keturunan Minangkabau.

Masa Kecil

Ibu Cut Nyak Dien adalah putri uleebalang Lampagar. Tempat ibadat kita dirusak!! Di bawah kepemimpinan suaminya, ia turut serta dalam pertempuran dan aktif memberikan dukungan moril kepada pasukan Aceh.

Pada Maret 1873, Belanda menyatakan perang terhadap Aceh, Perang Aceh pun meletus.

Wanita berjuluk Ratu Aceh ini terus melakukan perlawanan kepada Belanda supaya pergi dari tanah kelahirannya, Aceh.

Dalam sejarah Aceh, ada beberapa tokoh wanita yang menjadi pahlawan bahkan ikut dalam pertempuran.