Biodata pahlawan pangeran antasari dan
Home / Historical Figures / Biodata pahlawan pangeran antasari dan
Karena perlawanannya, Pangeran Hidayatullah ditangkap oleh Belanda dan diasingkan ke Cianjur.
Tertangkapnya Pangeran Hidayatullah membuat Pangeran Antasari kemudian naik tahta dan melanjutkan perjuangan untuk melawan Belanda bersama seluruh rakyat Banjar. Ini tergambar pada suratnya yang ditujukan untuk Letnan Kolonel Gustave Verspijck di Banjarmasin tertanggal 20 Juli 1861.
….Dengan tegas kami terangkan kepada tuan: Kami tidak setuju terhadap usul minta ampun dan kami berjuang terus menuntut hak pusaka (kemerdekaan)”
Dalam peperangan, belanda pernah menawarkan hadiah kepada siapa pun yang mampu menangkap dan membunuh Pangeran Antasari dengan imbalan 10.000 gulden.
Keterdesakan ini juga membuat Pangeran Antasari membentuk pemerintahan darurat Kasultanan Banjar.
Tak hanya melancarkan serangan, Belanda juga berkali-kali mencoba bernegosiasi dengan membujuk Antasari untuk segera menyerah namun tidak dihiraukaunnya dengan sebuah surat yang ditujukan kepada Letnan Kolonel Gustave Verspijck di Banjarmasin tertanggal 20 Juli 1861.
Perjuangannya bersama rakyat Banjar terus dilakukan untuk melawan Belanda.
Perang Banjar berakhir setelah putra Pangeran Antasari, Sultan Muhammad Seman ketika mempertahankan Benteng Baras Kuning dari serangan Belanda pada 24 Januari 1905. Setelah itu, Pangeran Antasari dimakamkan di Taman Makam Perang Banjar (Kompleks Makam Pangeran Antasari), Banjarmasin Utara.
Perjuangan dalam melawan penjajah dilakukannya hampir sepanjang hidup.
Perjuangan beliau dilanjutkan oleh puteranya Sultan Muhammad Seman dan mangkubumi Panembahan Muda (Pangeran Muhammad Said) serta cucunya Pangeran Perbatasari (Sultan Muda) dan Ratu Zaleha.
Pada 14 Maret 1862, beliau dinobatkan sebagai pimpinan pemerintahan tertinggi di Kesultanan Banjar (Sultan Banjar) dengan menyandang gelar Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin dihadapan para kepala suku Dayak dan adipati (gubernur) penguasa wilayah Dusun Atas, Kapuas dan Kahayan yaitu Tumenggung Surapati/Tumenggung Yang Pati Jaya Raja.
Silsilah Pangeran Antasari
Semasa muda nama beliau adalah Gusti Inu Kartapati.
Semasa muda Pangeran Antasari bernama Gusti Inu Kartapati.
Pangeran Antasari bersama pendukungnya melawan Belanda. Jasadnya kemudian dikebumikan di Banjarmasin, di daerah hulu sungai Barito.
Namun, Pangeran Antasari terus melanjutkan perjuangan melawan penjajah meski saat itu usianya sudah cukup tua.
Dia bersama pasukannya berperang di wilayah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Karakternya menjadi panutan dari berbagai kalangan masyarakat, khususnya di Kalimantan Selatan.
Pada 14 Maret 1862, Pangeran Antasari dinobatkan menjadi pimpinan pemerintahan tertinggi di Kesultanan Banjar.
Dan akhirnya Khalifah memindahkan pusat benteng pertahanannya di Muara Teweh.
Berkali-kali Belanda membujuk Pangeran Antasari untuk menyerah, namun beliau tetap pada pendirinnya. Hal ini diberikan berkat jasa dan pengabdiannya yang telah berjuang melawan penjajah dan merebut kemerdekaan.
(aau/aau)Biografi Pangeran Antasari
Ia meninggal karena penyakit paru-paru dan cacar di pedalaman sungai Barito, Kalimantan Tengah.
Jasanya dalam melawan para penjajah Kolonial Belanda di Perang Banjar membuatnya dikenal sebagai sosok yang cukup cerdas dan pemberani.
Sebagai seorang Sultan Banjar, Gusti Inu Kartapati nama mudanya, memang dikenal sebagai pewaris Kerajaan Banjar dan pemimpin suku Banjar juga suku Suku Ngaju, Maanyan, Siang, Sihong, Kutai, Pasir, Murung, Bakumpai serta beberapa suku lainnya yang berada di kawasan pendalaman maupun kawasan sungai Barito.
Silsilah Singkat Pangeran Antasari
Pangeran Antasari | Foto: dokpri
Gusti Inu Kartapati lahir di Kayu Tangi, Kasultanan Banjar pada tahun 1809.
Ibunya Gusti Hadijah binti Sultan Sulaiman.
Namanya Pangeran Antasari. Pangeran Antasari memiliki seorang adik perempuan bernama Ratu Antasari atau Ratu Sultan Abdul Rahman yang meninggal dahulu setelah melahirkan anaknya yang bernama Rakhmatillah yang merupakan pewaris kesultanan banjar, dan saat masih bayi anaknya pun meninggal.
Pangeran Antasari tidak hanya sebagai pemimpin Suku Banjar, namun juga pemimpin Suku kutai, Maanyan, Bakumpai, Siang, Murung, Ngaju, Sihong, Pasir dan beberapa suku lain yang ada di wilayah dan pedalaman atau sepanjang Sungai Barito, baik beragama Islam maupun Kaharingan.
Setelah pengasingan Sultan Hidayatullah ke Cianjur oleh Belanda, perjuangan rakyat banjar diteruskan oleh Pangeran Antasari.
Sepeninggalan Pangeran Antasari, perjuangan di teruskan oleh putranya yang bernama Muhammad Seman.
Pada tanggal 11 november 1958 atas keinginan Banjar dan juga persetujuan keluarga, setelah terkubur selama sekitar 91 tahun di daerah Hulu sungai Barito, kerangka Pangeran antasari dipindah makamkan ke Taman Makam Perang Banjar yang ada di Kelurahan Surgi Mufti, Banjarasin.
Namun, kecerdasan dan keberanian Pangeran Antasari membuat mereka kesulitan menangkapnya hingga peperangan ini berakhir karena tidak ada satupun yang mau menerima sayembara ini.
Perang Banjar ini berakhir ketika Pangeran Antasari wafat karena penyakit paru-paru dan cacar pada 11 Oktober 1862, di usia 52 tahun. Setelah berjuang di tengah-tengah rakyat, Pangeran Antasari kemudian wafat di tengah-tengah pasukannya tanpa pernah menyerah, tertangkap, apalagi tertipu oleh bujuk rayu Belanda pada tanggal 11 Oktober 1862 di Tanah Kampung Bayan Begok, Sampirang, dalam usia lebih kurang 75 tahun.
Pemberontakan yang dilakukan selama ini memang didalangi oleh Pangeran Antasari yang membuat dirinya semakin dikenal luas di wilayah Kalimantan.
Setelah serangan yang dilancarkan oleh Pangeran Antasari beserta rakyat Banjar, Belanda meminta bantuan dari Batavia untuk pasukan tambahan yang sudah dilengkapi dengan persenjataan yang cukup modern untuk menyerang balik.
Serangan Belanda yang semakin kuat ternyata membuat pasukan Antasari menjadi semakin terdesak dan membuatnya terpukul mundur hingga ke Muara Teweh.
Terkadang dengan kata semangat dan keingin dari diri sendiri, bukan mustahil ini bisa menjadi penambah kekuatan untuk diri kita dalam menggapai apa yang kita inginkan-dalam arti tujuan yang mulia tentunya!!!
Pangeran Antasari telah dianugerahi gelar sebagai Pahlawan Nasional dan Kemerdekaan oleh pemerintah Republik Indonesia berdasarkan SK No.
06/TK/1968 di Jakarta, tertanggal 23 Maret 1968. Menjelang wafatnya, ia masih sempat memimpin prajurit-prajuritnya untuk mempersiapkan serangan melawan Belanda.
Pada tanggal 11 Oktober 1862, perjuangan Antasari terhenti karena meninggal dunia di Bayan Begak, Kalimantan Selatan.